Rabu, 12 Agustus 2009

KUPU-KUPU HITAM










......
Aku hanyalah seekor kupu-kupu hitam
Yang ingin mewarnai kehidupan
Namun jika mereka enggan
Dan hati tiada berkenan
Biarkan aku pergi
Sembunyi di balik awan
......
Aku hanyalah seekor kupu-kupu hitam
Yang ingin berbagi kebijaksaan
Ia lahir dari nurani bersih
Dan hati tanpa dendam
Maka jika enggan memberikan
Cuma ada dua pilihan
Pelit atau tidak punya nurani?
Bagaimana mungkin akan peroleh kemuliaan
Jika enggan berbagi pada mereka yang memerlukan?
......
Aku hanyalah seekor kupu-kupu hitam
Yang ingin tetap bertahan
Mengepakkan sayapku yang lembut
Meski angin dan hujan tak berhenti
Entah sampai kapan
......

Jumat, 19 Juni 2009

Keterampilan Mendengar

Kemampuan SBY dalam memimpin ekonomi negara lebih pada kelihaiannya dalam membaca tanda-tanda jaman yang tercermin dari sikap mendengar, memahami, dan mengarahkan secara baik.
(Business Review, Juni 2009)

Public speaking merupakan sarana utama meraih sukses kepemimpinan. Sebagai mana disampaikan oleh para pakar dan praktisi kepemimpinan bahwa leadership hakikatnya adalah mempengaruhi. Seorang pemimpin yang sukses sudah barang tentu mereka yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang ditetapkan.
SBY sebagai pemimpin negara yang pernah mendapat anugerah sebagai Tokoh Berbahasa Lisan 2003 memahami betul bahwa untuk dapat memimpin dan mempengaruhi ada tiga tahapan utama yang harus dilewati. Ketiga tahapan tersebut adalah mendapatkan input, memproses, dan memberikan output yang membuat orang dengan sukarela memberikan yang terbaik dalam pencapaian tujuan.
1. Mendapatkan Input
Input dalam hal ini berupa data dan fakta diperoleh dengan cara melihat dan mendengar permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat (audiens). Seorang pemimpin harus mendapatkan informasi akurat tentang hal ini. Oleh karenanya keterampilan mendengar (juga melihat) merupakan hal pertama dan utama yang tidak bisa ditawar lagi keberadaannya. Begitupun sukses seorang public speaker juga dimulai dari keterampilan ini.
2. Memproses Input dan Mencari Solusi
Informasi yang berupa data dan fakta yang diperoleh kemudian diproses dengan memilah menurut skala prioritas mana yang sangat penting, penting, dan kurang penting untuk segera diatasi. Kemudian dicarilah solusi paling jitu sehingga harapan mampu mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat menjadi kenyataan. Bermodal analisis informasi yang ada lantas membuat pilihan-pilihan solusi serta merangkingnya sehingga dapat dibuat rencana A, B, C, dan seterusnya. Formula yang tepat guna dipilih dan kemudian dibuat simulasi sebelum dipublikasikan.
3. Publikasikan Output dan Lakukanlah
Setelah dipilih solusi terbaik seorang pemimpin (juga public speaker) harus mengerahkan dan mengarahkan segenap sumber daya untuk meralisasikan rancangan solusi dengan langkah nyata. Dan sekali lagi kepemimpinan seseorang teruji di sini. Bagimana dengan pengaruhnya ia mampu mengerahkan dan mengarahkan sumber daya (termasuk sumber daya manusia) hingga masalah masyarakat dapat diatasi.
Keberhasilan seorang public speaker ternyata tidak semata-mata didukung oleh kemampuan memaparkan ide belaka. Sebab sejatinya kelihaian berbicara merupakan cerminan dari keterampilan mendengar.
AA Gym dalam berbagai ceramahnya sering berkata, "Apa yang keluar dari teko, itulah isi sebenarnya dari teko''. Dan yang tidak boleh dilupakan juga bahwa "Isi teko adalah apa yang dimasukkan ke dalam teko!" Bukankah teko akan tetap kosong jika kita tidak mengisi atau mengijinkan orang lain melakukannya?
So, dengarkan, pahami, dan lakukanlah lantas biarkanlah kesuksesan menghampiri...

Jumat, 12 Juni 2009

Personal Branding

Coba anda bayangkan, apa yang terlintas di benak anda ketika saya menyebut Julia Perez? Bagi banyak orang jika mereka ditanya pasti mereka akan menjawab; artis yang sensual, cantik, gemar membuat sensasi, minimaliss, suka hal-hal yang berbau seksualitas, dan sebagainya.

Mengapa orang berfikir semacam itu? Karena orang mempersepsikan simbol-simbol yang selama ini diciptakan oleh Julia Perez dari ucapan dan perilakunya yang diekspos oleh media. Dari simbol-simbol inilah melahirkan personal branding dari seorang perempuan yang juga disebut Jupe ini.

Jika kita ingin menjadi seseorang yang dikenal oleh masyarakat luas tentu juga harus menciptakan image yang unik dan berbeda dari yang ada. Sebuah perusahaan agar dikenal oleh masyarakat biasanya dibuatlah logo yang mencerminkan budaya kerja, identitas, filosofi, serta tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan kita sebagai individu akan dikenal melalui simbol-simbol busana, tutur kata, kepribadian, pikiran/ide, sikap, dan tindakan yang kita lakukan.

Orang biasanya akan lebih mudah mengenali jika menemukan keunikan tertentu yang membedakan dengan yang lain. Ketika dalam sebuah kelompok terdapat salah satu yang mempunyai ciri-ciri menonjol dari yang lain tentu paling mudah dikenali. Misalnya dalam sepuluh orang terdapat satu orang memakai topi, maka orang segera menunjuk itu dia si fulan yang bertopi.

Pernahkah anda berfikir, ketika nama anda disebut kira-kira apa yang terlintas dalam bayangan orang-orang yang mendengarnya?

Senin, 08 Juni 2009

MC dan Humor

Ada kalanya sebuah acara berjalan kaku, tegang, dan terasa melelahkan. Sambutan pengisi acara bertele-tele dan ngelantur. Audiens terlihat bosan dan beberapa mulai menguap. Bahkan di beberapa sudut tampak ngobrol sendiri mengatasi kebosanan mengikuti acara.

Kondisi ini menjadi beban berat seorang MC. Ketika ia gagal menanganinya, orang bisa mengkambinghitamkannya sebagai MC yang tidak profesional, meskipun belum tentu kesalahan terletak pada pembawa acara. Susunan acara dari protokoler atau tuan rumah (shahibul hajat) yang kurang efektif dan efisien bisa juga menjadi penyebabnya.

Untuk mengatasinya sebelum acara berlangsung seorang MC bisa saja memberikan masukan sebelum acara dimulai. Beberapa hari sebelumnya ia harus berkoordinasi dengan pemilik acara. Jika ada yang dirasa kurang tepat sang calon MC bisa menyampaikan pendapat. Akan tetapi keputusan tetap menjadi wewenang pemilik acara dan sang calon MC tidak boleh memaksakan diri.

Jika sudah seperti ini, pembawa acara harus mempunyai jurus jitu agar acara tetap berlangsung lancar dan tetap diikuti dengan baik oleh hadirin dari awal hingga akhir.
Salah satu jurus yang bisa dipakai adalah dengan menyelipkan humor di sela-sela acara berlangsung. Humor diyakini bisa mencairkan kebekuan suasana sebuah acara. Di sini kepiawaian pembawa acara memilih humor yang cerdas sangat penting.

Beberapa tokoh sukses membawakan acara atau menjadi pembicara publik juga ditunjang oleh kepiawaian mereka mengolah humor sebagai pemanisnya. Simaklah James Gwee, Mario Teguh, Aa' Gym, dan banyak lagi. Ada baiknya kita mengikuti jejak mereka menyisipkan humor dalam membawakan sebuah acara sehingga menjadi menarik dan tetap diminati audiens.

Menurut hemat saya ada beberapa hal yang harus diperhatikan;
  1. Humor yang disampaikan tidak menyinggung perasaan orang tertentu.
  2. Tidak boleh merendahkan martabat orang, kelompok, etnis atau agama.
  3. Tidak melanggar norma baik sosial, agama, atau hukum yang berlaku.
  4. Menyesuaikan dengan acara yang dipandu sebab tidak semua acara bisa disisipi dengan humor.
  5. Tetap disampaikan dengan santun dan tidak berlebihan karena seorang MC bukan pelawak.
Beberapa bentuk humor yang dapat dilakukan dalam sebuah acara di antaranya adalah; gesture (gerak tubuh), anekdot, pantun jenaka, atau ungkapan-ungkapan lainnya.

Menciptakan humor bagi MC solo (tunggal) relatif lebih sulit dibanding MC duo (duet) atau trio. Ketika MC duo/trio masing-masing pembawa acara dapat saling melempar lelucon dan lebih mengalir. Ide-idenya pun lahir dari dua atau tiga kepala. Sedangkan pada pembawa acara tunggal perlu keterampilan tersendiri.

Perbendaraan humor dapat diperoleh dengan berbagi dengan teman, banyak membaca, melihat gambar-gambar kartun, menonton film komedi, atau berbagai cara lain. Setelah itu tinggal memilih dan memilah mana yang cocok untuk dipakai guna membuat acara semakin oke.

Selamat mencoba!

Senin, 25 Mei 2009

Handphone Vs Acara Resmi


Saat ini penggunaan telepon genggam (handphone) sudah menjadi kebutuhan penting sebagian masyarakat. Perangkat komunikasi nirkabel yang praktis, mudah dibawa kemana-mana, serta sangat mendukung aktivitas modern ini menjadi piranti vital dalam kehidupan kita.

Tapi pernahkah Anda merasa terganggu oleh keberadaannya?
Suatu ketika saya tengah mengkhusukkan diri shalat berjamaah di sebuah masjid. Tiba-tiba dari saku ma'mum di samping saya terdengar suara kodok. Rupanya bunyi nada dering telepon genggam tetangga sebelah. Buyarlah konsentrasi shalat saya!

Di lain waktu dalam sebuah seminar saya tengah asik memperhatikan materi nara sumber. Tiba-tiba terdengar hand phone peserta di belakang kursi yang saya duduki berbunyi. Bak seorang pengusaha yang super sibuk ia menjawab telepon orang di seberang sana dengan memberikan instruksi-instruksi bisnisnya. Kacaulah seminar hari itu.

Setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa orang tidak mematikan hand phone dalam acara resmi atau acara lain yang memerlukan konsentrasi :
  1. Hand phone masih baru biar dilihat orang lain,
  2. Gagap teknologi sehingga tidak mengerti bagaimana cara menonaktifkan nada dering dan menyetel mode getar,
  3. Nada dering lagu baru dan ingin didengar oleh orang lain,
  4. Sibuk atau sok sibuk,
  5. Tidak dipercaya pasangan hidupnya sehingga dapat dicek dimana ia berada.
Alasan selain hal-hal di atas biasanya mereka lupa. Adalah tugas seorang pembawa acara mengingatkan hadirin agar menonaktifkan handphone sebelum acara dimulai. Hal ini bertujuan agar acara berlangsung khidmat, lancar, dan seluruh hadirin merasa nyaman serta memperoleh manfaat maksimal dari acara tersebut.

Dalam sebuah acara resmi himbauan dapat ditempatkan sebagai pra acara, sedangkan dalam acara yang setengah resmi dapat disampaikan di sela-sela pembukaan. Penggunaan telepon genggam disarankan agar dilakukan pada acara rehat. Sehingga acara tidak terganggu dan bisnis pun tetap berjalan lancar.

Dan yang tidak boleh lupa yakinkan bahwa handphone pembawa acara terlebih dulu dimatikan. Jangan-jangan ketika hand phone hadirin telah nonaktif malah terdengar lagu "Belah Duren"-nya Julia Perez dari saku pembawa acara. Wah, gawat nih! Bisa-bisa honor dipotong, deh!

Jumat, 22 Mei 2009

Menjadi MC Sukses


Janganlah memulai bisnis dari yang sudah kau ketahui karena hanya akan menghasilkan sesuatu yang biasa kau dapatkan. Tapi mulailah dari yang belum kau ketahui sebab akan diperoleh hasil yang kau impikan.
(James Gwee)


Begitu kalimat yang berkesan di hati saya setelah mengikuti seminar James Gwee di hotel Swiss Belhotel Borneo Samarinda pada hari Sabtu, 16 Mei 2009. Sebuah kalimat yang awalnya terasa aneh buat saya. Bagaimana bisa saya harus memulai pekerjaan jika saya tidak mengerti apa yang harus saya kerjakan? Pada siapa saya bertanya? Dan bagaimana cara mengerjakannya?

Ternyata pertanyaan dalam hati kecil saya itu pokok persoalannya. Jika mengerjakan sesuatu dari yang sudah kita ketahui hasilnya ya sebatas pengetahuan yang kita punya. Tidak lebih! Jika saya menjadi MC hanya berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas. Maka hasilnya pun pasti cuma sebatas itu.

Saya mencoba menarik benang merah dari kalimat di atas dengan minat saya. Untuk menjadi pembicara yang berhasil dan selalu meningkat, ada tiga hal yang harus saya lakukan. Yang pertama, tetapkan target apa yang akan saya dapat (what). Misalnya saya ingin menjadi pembicara yang hebat, menjadi pembawa acara yang hebat. Keinginan tersebut tidak akan tercapai jika saya hanya puas dengan pengetahuan yang saya punya saat ini. Saya harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk mewujudkan impian tersebut.

Yang kedua, saya harus mencari pembicara sukses tempat saya bertanya (who). Prinsip kedua ini adalah prinsip untuk selalu belajar dari orang lain yang lebih dahulu sukses. Menjadikan ia sebagai mentor/guru untuk belajar dan mengetahui segala hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Yang ketiga, dari orang tersebut saya mencari tahu bagaimana (how) caranya menjadi pembicara yang baik. Jika kita sudah mendapatkan orang yang tepat untuk tempat bertanya maka tanyakan apa yang kita inginkan. Tentu saja pertanyaan ini harus fokus pada apa yang ingin kita ketahui serta tujuan yang akan kita capai. Adalah membuang-buang waktu jika kita sudah ketemu nara sumber tapi justru membicarakan sesuatu yang tidak penting. Akibatnya kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman mereka hilang percuma.

Nah setelah tahu targetnya apa, sudah ketemu orang yang pantas dijadikan referensi, mendapatkan cara yang tepat untuk mencapai tujuan, tinggal kita kerahkan segala potensi sehingga apa yang kita impikan menjadi kenyataan.

Ternyata semakin kita belajar semakin banyak yang tidak kita ketahui. Makanya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar perlu belajar dan berlatih yang lebih banyak lagi. So, mari kita mencari teman orang sukses, biar kita tahu bagaimana cara menjadi orang sukses, dan kita pun ketularan sukses.
Thank's Mr. James!

Selasa, 19 Mei 2009

Membangun Percaya Diri


It's not about the size of a man, but the size of his heart that's matter... (Evander Holyfield)

Suatu ketika mahasiswa di kelas saya bertanya,"Pak gimana sih caranya agar tidak minder bicara di depan orang? Apalagi di depan pejabat atau audiens yang banyak seperti ketika menjadi MC?"

Pertanyaan ini menjadi pertanyaan banyak orang yang mungkin kurang pede untuk menjadi 'public speaker'.
Saya pun jadi ingat ketika pertama kali saya membawakan acara pengajian di kampung waktu saya kelas dua SMP. Saat itu saya harus menjadi MC tingkat kelurahan dengan bahasa Jawa halus pula. Begitu naik panggung dan mengucapkan 'assalamualaikum' tenggorokan terasa kering. Keringat dingin membasahi tengkuk. Badan sedikit bergetar. Saya mencoba mengatur nafas dan menenangkan diri. Sesaat terbayang kata bapak saya, "Kalau kamu sudah jadi MC anggap semua orang tidak lebih pandai dari kamu. Di situ kamulah bintangnya!".

Saya lihat ada beberapa hadirin duduk lesehan bersandar di pohon pisang. Seketika saya berfikir ah, mereka tidak beda jauh sama pohon pisang itu. Mereka cuma bisa diam mendengarkan saya. Sedangkan saya berdiri gagah di sini berbicara di hadapan mereka. Begitu saya membesarkan hati saya. Cara ini ternyata berhasil. Alhamdulillah saya bisa membawakan acara tersebut sampai selesai. Sejak itu saya bisa lebih cepat menguasai diri ketika harus berbicara di depan publik.

Erbe Sentanu penggagas Quantum Ikhlas dalam seminar dan pelatihan di hotel Pacific Balikpapan tanggal 9-10 Mei 2009 pun menyampaikan hal yang sama. Bahwa kekuatan hati merupakan modal dasar untuk memperoleh kebahagiaan hidup.

Begitu pula dalam dunia kepranatacaraan, untuk menjadi pembicara yang sukses mengalahkan diri sendiri merupakan modal utama. Seorang juara dunia seperti Evander Holyfield pun sangat yakin bahwa kemenangannya lebih banyak ditentukan oleh ukuran hatinya melebihi berat badannya. Mental, keberanian, dan semangat bertanding yang membara akan membangkitkan serta meningkatkan kekuatan dan akurasi pukulan. Akhirnya sabuk juara dunia pun diraih.
Semoga sukses.